Ciri - ciri orang yang selamat dan celaka

Ciri - ciri orang yang selamat dan celaka - Sengaja maupun tidak, disadari maupun tidak sebenarnya kebanyakan manusia (termasuk saya) seringkali malakukan tindakan, sikap dan pikiran yang justru mengarah kepada kerugian dan kecelakaan dunia dan akhirat bukannya selamat dunia akhirat.


Selamat dunia akhirat sangatlah penting, minimal selamat akhirat sebab esensi kehidupan ini sebenarnya adalah ujian untuk kehidupan di akhirat kelak. 

Lantas apa ciri - ciri manusia yang celaka dan yang selamat ?

Melupakan dosa masa lalu.
Celakalah orang yang selalu melupakan dosa masa lalu dan selamatlah orang yang selalu ingat dosa masa lalu. Ingat dosa masa lalu bukan berarti mengenang hal - hal negatif dengan berlinang air mata darah, menangis sesenggukan di gardu hansip sambil nenteng sandal jepit..., atau menyayat - nyayat badannya hingga berdarah untuk mengekspresikan penyesalan.

Bukan... bukan itu maksudnya. Selalu ingat dosa masa lalu dimaksudkan agar manusia selalu taubat dengan dosa yang pernah dilakukannya dan agar selalu ingat untuk tidak melakukan dosa yang sama untuk kedua kalinya.

Mengenang kebaikan masa lalu.
Celakalah orang yang selalu mengenang kebaikan masa lalu dan dan selamatlah orang yang melupakan kebaikan yang telah dilakukannya.

Dengan selalu mengenang kebaikan masa lalu akan membuat manusia menjadi pongah dan sombong. Sebab mereka menganggap diri sendiri sudah banyak melakukan kebaikan sehingga merasa amal kebajikan atau pahala yang didapat sudah melimpah. Padahal, siapa yang bisa menjamin kebaikan dan amal kebajikan itu pasti diterima oleh Tuhan ? Hanya Tuhan sendirilah yang tahu.

Bicara mengenai sebuah kebaikan, sebenarnya apa makna dari kebaikan itu sendiri ? Apakah menolong orang kelaparan itu suatu kebaikan ? Apakah menolong anjing kehausan itu suatu kebaikan ? Apakah mengawini janda muda cantik itu suatu kebaikan padahal dia sudah beristri ? Kenapa tidak menolong janda tua saja he.... padahal janda tua itu jelas - jelas butuh pertolongan. Apakah membiayai kuliah gadis cantik itu suatu kebaikan ? Kenapa kok nggak menolong sekolah anak - anak terlantar dan miskin ?

Secara kasat mata sulit membedakan kebaikan yang benar - benar berniat baik, atau kebaikan dengan embel - embel berbagai harapan dibelakangnya. Yang jelas, kebaikan yang baik itu hanya mengharapkan balasan dari Tuhan semata dan tanpa harapan embel - embel apapun dari yang ditolongnya. Dan semua itu hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu. Sebab awal segalanya adalah niat dan harapan.

Berbanding terbalik dengan orang yang selalu melupakan kebaikan yang telah diperbuatnya. Mereka menganggap kebaikan yang telah dilakukannya masih kurang dan selalu kurang, sehingga mereka akan selalu berbuat kebaikan terus sampai akhir hayatnya dan selalu membawa manfaat buat makhluk lainnya.

Selalu melihat ke atas.
Manusia cenderung untuk selalu melihat ke atas terhadap hal - hal yang bersifat duniawi dan itu juga bisa membuat celaka. Seringkali kita melihat dan merasakan bahwa kebanyakan penilaian ukuran sukses seseorang adalah dilihat dari harta dan kekayaannya. Si A termasuk sukses karena punya banyak mobil, Si B sukses karena rumahnya  27 lantai (lantai 1 s/d 26 dalam perencanaan he...), dan Si C sukses karena istrinya ada 16 orang dan rukun semua (kelinci kali !).

Itulah kenyataan yang sering kita lihat, padahal namanya manusia sekaya dan sehebat apapun pasti akan merasa kurang dan tidak pernah puas bila selalu melihat ke atas. Ujung - ujungnya adalah tidak pernah bersyukur sama Tuhan, sering protes sama Tuhan, pelit, sombong, seolah - olah Tuhan tidak punya peran atas rezeki yang didapatnya sebab mereka merasa kekayaannya adalah hasil kerja kerasnya dan kecerdasan otaknya. Tuhan dijadikan nomor 2, dan nomor 1 nya adalah dirinya sendiri. Sehingga kalau sudah parah mereka akan menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Na'idzubillahimindzalik.

Maka selamatlah bagi mereka yang dalam urusan duniawi selalu melihat ke bawah. Dampak positifnya luar biasa bagi makhluk lainnya. Selalu bersyukur, tidak pelit, tidak sombong, piiissssssss alias damai dan sejahtera. Segala tindakan dan pikirannya akan selalu membawa dampak kebaikan buat sekitarnya dan untuk kehidupanya sendiri di akhirat kelak.

Selalu melihat ke bawah
Selalu melihat ke bawah bukan berarti mencari duit jatuh di jalan atau mencari cincing si Waginem yang kemarin hilang saat pulang dari pasar... Selalu melihat ke bawah dalam hal ini berarti Celakalah manusia bila selalu melihat ke bawah atas urusan akhirat. Bila selalu melihat kebawah atas urusan akhirat maka mereka akan merasa amal pahalanya, ibadahnya dan kebaikannya sudah lebih banyak dan lebih hebat dari orang lain. Sombong, sok alim, sok ahli ibadah, ke akuan nomor 1 dan malas berbuat baik adalah dampak yang akan didapatnya.

Kebalikannya, bila orang yang selalu melihat ke atas untuk urusan akhiratnya. Dia akan selalu berusaha berbuat baik... baik... dan baik, haus ilmu kebaikan, haus ibadah dan haus untuk berbuat sesuatu yang memberikan manfaat untuk makhluk lainnya.

Terakhir, saya cuma berharap terutama untuk diri saya sendiri pada khususnya (Kayak khotbah Jum'at ya !) dan pembaca artikel "ngawur" ini. Marilah kita bertanya pada diri kita masing - masing. Kita ini termasuk manusia celaka ataukah manusia yang selamat. Ayo kita berlomba - lomba untuk menjadi orang yang lebih baik meskipun saat ini dan masa lampau kita kacau, jelek, hina dan bejat. Tuhan Maha Pengampun, dan Tuhan sangat mencintai orang - orang yang baik dan membawa manfaat.

Mbok Painten kleleken klopo.. cekap semanten ocehan kulo ! (Ibu Painten tersedak kelapa utuh... cukup sekian ocehan saya: Red.Bhs Jawa). Semoga membawa manfaat amiiiiiiiinnnn.

Hidup atau matikah kita

Hidup dan kehidupan serta mati dan kematian coba kami tulis dalam posting kali ini. Topiknya ngeri coy !. Mohon maaf kalau dalam tulisan kali ini agak nyleneh sebab tanpa pakai nara sumber dan  tanpa literature apapun. Satu satunya materi yg di pakai adalah apa yg ada dalam hati dan otak kosong penulis sendiri.

Hidup atau matikah kita

Semua orang suka hidup, kenapa ya kok nggak ada yang suka mati ? hee.. pertanyaan yang aneh. Hal ini nggak ada bedanya dengan pertanyaan “kenapa semua orang kok suka jadi kaya daripada jadi miskin ?”. Sebenarnya hidup itu apa dan untuk apa ? Begitu juga dengan mati. Mati itu apa dan untuk apa? Kita sekarang ini lagi hidup atau mati? Sepele memang tapi saya yakin itulah pertanyaan yang sering muncul jika seseorang sedang berusaha memaknai hidupnya. Waduh saya kok malah jadi bingung sendiri.

Hidup dalam kajian biologi diantaranya adalah mempunyai ciri - ciri sbb:  tumbuh, berkembang, bergerak dan berkembang biak. Meskipun dulu biologi dapat nilai 5 tapi masih ingat sedikit sedikit. Sedangkan mati mempunyai arti sebaliknya. Mati kebanyakan orang mengartikan sebagai sebuah malapetaka, jahat, kesedihan dan kehancuran.

Dalam kajian ilmu “asal ngomong”, hidup mempunyai dua bagian yang sangat penting, dan dua duanya membutuhkan makanan dengan asupan gizi yang seimbang. Dua bagian itu adalah jiwa dan raga, lahir dan bathin, saya sebenarnya lebih suka sebut: bathin dan lahir, jasmani dan rukmini (rohani maksudnya).

Dalam kehidupan sehari - hari seringkali terdengar pertanyaan sebagai berikut: Sudah makan ? Sudah berolah raga ? Atau Sudah gerak badan ? (inget jaman dulu, olah raga dibilangnya “gerak badan”), Sekarang badannya sudah smakin besar ya ? Anakmu sekarang berapa ? Sudah lulus sekolah ? Itu semua adalah pertanyaan bersifat biologis yang menunjukkan ciri – ciri hidup dari sisi phisik atau raga.

Tapi seringkah mendengar pertanyaan ini: Sudah sholat ? Sudah ke Gereja ? Dll, imanmu sekarang sudah setingkat apa ? Besuk menghadiri ceramah agama dimana ? Seringkah kamu membaca buku – buku agama ? Sudah meningkatkah imanmu ? Ini semua adalah pertannyaan yang bersifat jiwa. Saya sendiri kalau  dicerca pertanyaan seperti ini pasti akan diam dengan alasan diam itu emas heeee…..! padahal sebenarnya saya diam karena bingung nggak bisa jawab sebab semua itu jarang saya lakukan (malu saya.. pengakuan yang jujur hee..)

Pernah suatu saat saya ketemu seseorang di sebuah stasiun. Kami tenggelam dalam suatu obrolan iseng mengenai masalah kehidupan. Dalam obrolan tersebut dia bertanya sesuatu yg waktu itu saya anggap keluar dari topik obrolan, dia bertanya begini: “kamu dulu sekolah TK ?”, meski kaget saya jawab juga pertanyaan itu sambil senyum dan merasa aneh. “nggak mbah!”,  “berarti kamu langsung sekolah SD ya, lulus SD ?”, sambil agak jengkel saya jawab “ya lulus lah mbah, masak orang ganteng gini nggak lulus.”  Mbah nanya lagi, “Setelah  SD kayaknya kamu terus sekolah SMP, SMA dan sepertinya kamu juga sempat kuliah, apakah kamu lulus semua?”, Dengan bangga hati dan cepat saya jawab pertanyaan yang aneh itu, “iya mbah semua lulus dengan nilai di atas rata – rata”. Rupanya dia masih nanya juga sambil senyum karena dia melihat saya terlalu bangga, “berarti sekolahmu semua lulus ya, hebat kamu karena ada peningkatan”. Saya senyum bahagia karena dapat pujian.

Tapi tiba – tiba dia memberi  pertanyaan lagi, “Kamu dari SD sampai kuliah ada peningkatan sebab kamu sudah selesaikan sekolahmu, tapi meningkatkah keimananmu?, menigkatkah ibadahmu? Meningkatkah amal kebaikanmu?”. Bak disambar petir… modiar saya mendengar pertanyaan seperti itu, saya nggak bisa jawab, saya merasa seperti monyet yang kelaparan tengok sana tengok sini, sebab yang ditanyakan semua itu saya nggak ada peningkatan sama sekali, malah bisa dibilang semakin turun dan hancur heee…

Intinya memang kita butuh makanan lahir dan makanan bathin. Mati itu sebenarnya nggak ada, itu hanya istilah di dunia. Mati adalah peristiwa di saat raga meninggalkan jiwa. Sedangkan yang namanya jiwa, bathin dan rohani tetap akan kekal abadi hidup selamanya. Jadi kalau jiwa, bathin dan rohani saya tidak ada peningkatan kearah yang lebih baik itulah yang bisa dibilang mendekati kematian atau mati yang sebenarnya.

Saya sadar bahwa tulisan saya “agak ngawur” atau mungkin bisa dibilang “ngawur”, tapi saya sudah berusaha mengekspresikan diri saya degan jujur dan apa adanya. Apa arti hidup dan mati menurut anda?

Semoga artikel Hidup Atau Matikah Kita dapat membawa manfaat buat kita semua.

Ahmad Dhani Kejar Farhat Abbas Sampai Ujung Dunia

Ahmad Dhani mengatakan bahwa Farhat Abbas harus dihukum. Kalau hukum di Indonesia tidak mampu memenjarakan Farhat Abbas, Ahmad Dhani yang akan menghukum dengan caranya sendiri. Sampai di manapun Farhat akan di kejar Ahmad Dhani. Dan Ahmad Dhani tidak takut hukum. Meskipun Farhat sudah merengek minta maaf tapi Dhani tetap berniat melanjutkan kasus tersebut. Itulah berita yang di tayangkan salah satu acara infotainment ditelevisi tanggal 16 April 2014 yang tanpa sengaja saya lihat.

ahmad dhani kejar farhat abbas

Walah... walaaaahhhh... dua orang muda yang menurut saya gantengya standar dan kekayaannya juga standar sedang berantem di dunia maya dan dunia nyata , meskipun saya sendiri lebih jelek dan lebih miskin daripada mereka he.. hee...

Om Dhani, kalau nanti suatu saat Om Farhat jadi dikejar jangan di pukuli ya! Mending om Farhat suruh aja angkat tangan terus ambil sepatunya yang model duri landak, gosokkan aja di kedua ketiaknya ha.. ha.... Kalau nggak, pakai aja kulit durian he... sama berdurinya kan?

Terlepas dari permasalahan yang sebenarnya karena saya bukan Dhani dan bukan pula Farhat, ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi pada kejadian dua makhluk yang lagi panas ini.

Pertama:
Promosi diri sendiri untuk tujuan apapun harusnya memakai cara - cara yang positif dan bijak bukannya dengan cara arogan, sensasi negatif, superioritas dengan menunjukkan nyali dan keberanian kelewat batas seolah - olah sakti mandra guna. Seakan -akan  "disudhuk manthuk - manthuk, ditombak lakak - lakak dan dibedhil mecicil" ha.. ha.. ("Ditusuk malah manggut - manggut, Ditombak malah terbahak - bahak dan Ditembak cuma melotot doank" Red.).

Kalau orang punya nyali dan punya keberanian yang sebenarnya, tanpa promosi lewat media pun orang sudah pada tahu. Berkoar -koar tentang nyali dan keberanian lewat media sama halnya mengatakan pada semua orang bahwa mereka itu tidak bernyali dan tidak punya keberanian. Ini menurut saya lho... nggak tahu kalau menurut orang lain ). 

Sebab secara psikologis manusia akan menutupi dengan cara apapun atas kelemahannya. Ngoceh sana - sini secara tidak sengaja sama halnya men sugest dirinya sendiri atau meyakinkan diri sendiri. Tujuan dari semua ocehan itu adalah untuk diri sendiri bukan untuk orang lain.

Menurut saya, manusia sakti itu bukan pada orang yang berotot dengan sekali pelotot musuhnya langsung mati atau orang yang kebal hukum. Tapi orang sakti adalah orang yang mempunyai jiwa bersih, sehingga manusia macam apapun tidak tega untuk melukainya. Dan orang sakti hanya ada pada seorang bayi atau anak kecil. Bayi itulah bisa disebut sebagai manusia sakti. Kalaupun ada orang tua yang tega membunuh bayinya itu bukan bearti bayinya yang tidak sakti, tapi orang tuanya yang iblis.

Kedua:
Hancurkan kesombongan dan kepongahan diri dengan cermin. Kita harus banyak bercermin. Jadi diri sendiri itu sangat perlu, tapi membayangkan ganti posisi jadi orang lain itu juga sangat perlu. Kita harus banyak berpikir tentang "bagaimana jika aku adalah kamu atau kamu adalah aku". Kalau kita memperlakukan orang lain dengan sikap dan tindakan "A", perlu juga dipikir bagaimana kalau orang lain tersebut memperlakukan kita dengan sikap dan tidakan "A", sakit hatikah kita?

Hukum dunia adalah pondasi keadilan didunia karena yang membuat adalah manusia. Kalau manusia sudah tidak percaya hukum lagi apa jadinya dunia ini.

Salam sukses.

Pileg Dan Pilpres Perdulikah Rakyat

Pileg dan Pilpres, masih perdulikah rakyat memikirkan itu?

Ditengah malam saya bermimpi (kira - kira lho sebab mimpi kan nggak tahu jam), saya menjadi rakyat sebuah negeri yang bernama negeri "Khayalan". Di negeri ini rakyatnya sudah tidak mau perduli lagi dengan hajatan pileg (pilihan anggota legislatif) dan Pilpres (Pilihan Presiden}.

Pilihan Legislatif Dan Pilihan Presiden

Beda dengan negara tetangganya yang bernama Indonesia dimana pileg diikuti dengan antusias oleh warga negaranya dan sukses. Di Negara "Khayalan" keleluasaan jam kantor untuk pileg justru dipakai untuk liburan keluarga, surat undangan pileg malah dijadikan bungkus kacang goreng, teriakan ajakan Pak Camat dan Pak Lurah justru diterjemahkan oleh warganya seolah - olah sebuah perintah untuk tetap angon (mengembala) sapi atau kerbau, tetap macul (nyangkul), dan tetap ngrongsok (jadi pemulung).

Kenapa hal itu bisa terjadi? Setelah saya nongkrong sana nongkrong sini, di sekolahan, di sawah, di pasar dan diwarung kopi, ternyata alasan mereka sangat sederhana dan mendasar.

Pertama:
Mereka menganggap bahwa badan yang bernama legislatif itu katanya wakil rakyat, tapi kenyataannya badan legislatif justru menyengsarakan rakyat. Buktinya? Negara sampai saat ini masih kekurangan pangan / beras (kok ? bukannya negara ini adalah negara agraris? ). Buktinya? pemerintah dengan teriakan amiiinnn dari legislatif seolah - olah wajib dan harus import beras dari negara tetangganya dengan dalih agar rakyat tidak kelaparan. 

Sebegitu parahkan, sebegitu goblokkah petani negeri ini ? Megapa tidak memperbaiki sistem pertanian yang ada? Bukankah dinegeri ini banyak orang pintar? Atau ada hal lain yang menjadi target pemerintah dan legislatif?

Kedua:
Sama dengan alasan yang pertama. Dinegeri ini banyak sekali petani dan peternak sapi, kerbau, jangkrik, semut dan lain sebagainya. Kenapa daging menjadi komoditi mahal di negeri ini sehingga harus import? Kalau memang daging sapi negeri ini kurang bermutu, Begitu goblokkah para pakar dan insinyur peternakan kita? sehingga tidak bisa memperbaiki keadaan?

Perbaikan sistem pertanian dan peternakan tidak nampak nyata di mata rakyat. Dan rakyat tidak merasakan apa - apa dari dewan wakil rakyat yang di percayainya. Import lagi...  terus... terus dan terus selama bertahun - tahun malah semakin menjadi  jadi semakin bablas seperti sepeda ontel pakai rem sandal jepit.

Sudah terlalu banyakkah hutang negara ini sama negara lain? Sudah takutkah negara ini terhadap negara luar yang berdalih "perdagangan global?" Ataukah pihak legislatif dan departemen tertentu dapat keuntungan komisi besar terhadap kebijakan import yang di lakukan ?

Semua itu saya tidak tahu karena belum pernah mengalaminya. Yang saya tahu hanyalah, untuk menjadi anggota dewan legislatif dan untuk menjadi pemegang kuasa atas import membutuhkan uang yang tidak sedikit meskipun mereka pintar dan cerdas. Itupun susah membuktikannya secara hukum.

Saat bangun saya berdoa, semoga apa yang terjadi di negeri "Khayalan" tidak terjadi di Indonesia.